Masyarakat Jawa memiliki tembang Asmaradana yang
melukiskan cinta (asmara) yang
menyala seperti api (dahana). Salah
satu bait tembang asmaradana karya R. Ng. Yasadipura berikut ini, biasa
digunakan untuk memberikan tausiyah kepada pengantin baru. Isinya pelajaran
penting untuk menggapai hidup berumah tangga yang bahagia.
Tembang Gegaraning Wong Akrami:
“Gegaraning
wong akrami Dudu bandha dudu rupa
Amung ati
pawitane Luput pisan kena pisanYen gampang luwih gampang Yen angel, angel kalangkung
Tan kena tinumbas arta”.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia dari
tembang tersebut adalah sebagai berikut :
“Modal orang
membangun rumah tangga Bukan harta bukan rupa
Hanya hati
bekalnya Gagal sekali, berhasil juga sekaliJika mudah maka terasa sangat mudah Jika susah maka terasa sangat susah
Tidak bisa dibeli dengan uang”.
“Amung ati pawitane”, hanya hati bekalnya.
Sejak memilih calon pendamping hidup, hendaknya membekali diri dengan hati yang
bersih. Jangan terkotori oleh syahwat dan kesenangan sesaat, hingga melupakan
sisi martabat. Keputusan menikah hendaknya diambil dengan niat yang tulus,
motivasi yang lurus, tekat yang kuat, yang semuanya itu bersemayam di dalam
hati. Melaksanakan prosesi pernikahan dengan hati yang bersih, akan menjadi
landasan yang kokoh dalam membangun kebahagiaan hidup berumah tangga.
Hidup
berumah tangga itu sifatnya “yen gampang luwih gampang”, jika mudah, terasa
sedemikian mudah. “Gampang” itu artinya mudah. Melewati hari-hari dalam
kehidupan berumah tangga, kadang terasa sedemikian mudah. Semua persoalan mudah
diselesaikan, semua konflik mudah diredam, semua perselisihan mudah
didamaikan. Kadang suami dan istri terlibat konflik dan pertengkaran, namun
jika keduanya memiliki modal berupa hati yang bersih, akan mudah mengalah dan
mudah meminta maaf kepada pasangan. Kedua belah pihak justru berlomba untuk
mendahului mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada pasangan.
Mereka tidak perlu banyak bertanya “ini salah
siapa”. Mereka tidak mudah menuduh pasangannya “ini kan salah kamu semua”.
Mereka berdua tidak gengsi untuk mengakui kesalahan, tidak malu untuk meminta
maaf, tidak sulit untuk memaafkan kesalahan pasangan. Itu bermula dari kondisi
hati yang bersih.
Sebaliknya, “yen angel, angel kalangkung”,
jika sulit rasanya sedemikian sulit. “Angel” itu artinya sulit, sukar atau
susah. Ketika tengah dilanda masalah, tidak ada yang mau mengalah, semua merasa
benar dan bersikap menyalahkan pasangan. Keduanya bersikap menuntut dari
pasangan, dan tidak memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Hati mudah diliputi benci
dan dendam, hati mudah terbakar emosi. Setiap pembicaraan selalu berujung
kepada salah paham, dan akhirnya meledaklah kemarahan. Setiap saat suami dan
istri berada dalam suasana yang tidak nyaman.
Ketika berada dalam situasi seperti itu,
artinya hati sudah tidak bersih lagi. Kondisinya sangat sensitif, mudah
terbakar, mudah tersulut, mudah terkuasai emosi. Komunikasi sudah tidak akan
bisa berjalan dengan efektif, karena semua berusaha memenangkan ego diri.
Sekali masuk dalam situasi sulit seperti ini, rasanya akan terus bertambah
sulit. Setiap permasalahan sulit menemukan jalan pemecahan. Setiap konflik,
tidak mudah berdamai. Ini semua karena tidak memiliki hati yang bersih sebagai
modal utama membangun kehidupan berumah tangga.
Kebahagiaan
hidup berumah tangga itu “tan kena tinumbas arta”, tidak bisa dibeli dengan
uang atau harta. Mudah atau susah, semua kembali kepada kondisi hati suami dan
istri. Bukan karena kekayaan materi. Jika mau dibuat mudah, maka semua
persoalan hidup berumah tangga bisa dijalani dengan mudah. Jika mau dibuat
susah, maka semuanya akan selalu bertambah susah. Tidak ada persoalan hidup
yang tidak bisa diselesaikan, selama suami dan istri itu mau menyelesaikannya.
Yang membuat masalah menjadi mudah, ya mereka berdua. Yang membuat masalah
menjadi susah, ya mereka berdua.
Kebahagiaan hidup berumah tangga tidak akan
bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kemudahan dalam
menyelesaikan persoalan keluarga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan,
“tan kena tinumbas arta”. Ketenangan, kedamaian, kenyamanan hidup berumah
tangga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”.
Suasana sakinah, mawaddah wa rahmah tidak akan bisa dibeli dengan harta
kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kekokohan dan ketahanan keluarga tidak akan
bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”.
Semua
berpulang kepada suami dan istri itu sendiri, akan dibawa kemana biduk keluarga
mereka bawa, akan menjadi seperti apa keluarga yang mereka bina. Kembalilah
kepada kebersihan hati, sebagai modal utama hidup berumah tangga. Dengan hati
yang bersih, keluarga akan mudah menggapai kebahagiaan, mudah menggapai
keberkahan, mudah menggapai kondisi sakinah mawaddah wa rahmah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar